Thursday, December 5, 2013 | By: Chamdan Maulana

DIAM

Seketika hujan berjatuhan
Diatas derasnya sungai ang mengalir
Kucoba sumbangkan sedikit ludahku
Setelah ku pancurkan kepadanya air kecilku
Mengalir bersatu bersama arus
Berombak menari melukiskan sebuah Tanya
Yang semakin jauh semakin bertanya-tanya
Tentang sebuah kata
Sebuah kata yang memiliki seribu makna
Sebuah kata yang tak bisa di gambarkan dengan kata
Sebuah kata yang bertahan pada rasa
Sebuah kata yang bersembunyi pada tatapan mata
Atau pada mata yang tertutup dengan menundukan kepala
Ketika ditanya untuk menjawabnya
Kata apa yang harus dikatakan ?
Kata apa yang harus ditanyakan ?
Entahlah, kita mungkin akan tetap DIAM
Menjawab kata DIAM
Bertanya dengan DIAM
Terdiam dengan DIAM


KACAU

Saat kesalahan terus berulang-ulang kulakukan
Saat penyesalan selalu berkunjung datang menarikku dalam gelisahnya mimpi burukku
Saat rindu akan dunia baru yang ku impikan berlabuh
tak ada kata yang sanggup membawa luka ini pergi dari jiwaku

Aku menyelam tanpa bernafas dalam air
kuteguk semua asin laut ini tanpa peduli betapa bodohnya aku siakan kehidupan
berharap bisa kembali ke daratan
namun tenagaku telah habis dengan semua apa yang ku coba
ku coba berdiri lagi namun waktu menyeretku semakin rendah
walau impian mencoba menjunjungku lagi keluar lautan hitam ini
aku belum temukan nafas untuk ku kembalikan sesaknya jiwaku

Saat keyakinan sedikit menjadi sebuah keraguan
Saat janji seringkali diingkari
Saat kegilaan ini mulai menjalar kedalam hati
Perlu berfikir keras untuk ku mulai arahkan lagi perahu ini

Dalam nurani yang ku miliki
Aku emosi dari kekacauan hati ini


PIJAKAN KECIL

Ku kenalkan langkahku pada dunia
Namun bukan kebanggaan yang kuterima
Hanya ada kekecewaan yang terdalam dan penyesaalan di dada
Lantas untuk apa ???
Air yang ku teguk dengan kesegaran alaminya
Nasi yang senantiasa memberikan tenaganya
Kasur yang empuk yang mengukir indah mimpiku, membuat semakin nyata penderitaan atas kesuksesan yang belum sanggup ku raih…

Lalu, langkah apa lagi yang ingin ku kenalkan pada dunia
Mungkinkah garam di laut harus teguk semuanya
Atau mengejar angin yang berlalu tanpa peduli seberapa jauhnya ia berada
Mata yang selalu memandang ke langit, akankah mampu mengapai salah satu bintang yang indah diatas sana
Atau hanya akan terbang dengan keindahan sendiri tanpa berharap menjadi bintang

Saat malaikat bertanya langkah apa yang sudah kau ayuhkan ?
Aku tertunduk malu pada diriku sendiri, ingin ku berlari namun kemana akan pergi ? putus asa membuat semuanya tak berarti…

Tinggalah aku seorang diri, tanpa harapan dan keinginan di hati
Menunggu, dan hanya menunggu…
Ternyata lebih  membosankan
Ingin mati saja kalau hanya terus menunggu…
Air mata takan mampu menghapus lukaku, sebelum langkahku menjadi sebuah pijakan kecil untuk dunia yang begitu besar…